Awal 1980-an adalah masa-masa saya mulai mengagumi sneaker. Bukan karena fungsinya—untuk olahraga—melainkan karena desainnya. Puma Clyde dan Suede, dan adidas Top Ten yang telah mengusik perhatian saya, bukan karena Puma dipakai Walt “Clyde” Frazier, seorang pebasket yang terkenal stylish, pun bukan karena adidas Top Ten dipakai Kareem Abdul Jabar—sekalipun saya menyukai gaya kacamata Jabbar di lapangan.
Puma Suede pertama kali saya lihat dipakai guru olahraga di sekolah dasar. adidas Top Ten saya temukan di kaki kakak-kakak kelas dan alumni di sekolah menengah pertama. adidas Forum mid dan low yang membuat saya berdecak kagum bukan karena dipakai Michael Jordan sebelum digaet Nike, melainkan saya temukan di kaki beberapa sepupu yang saya tahu persis bukan pemain bola basket. Kata tepat untuk mengungkapkannya adalah “keren”. Saya bisa merasakan getaran ungkapan “cool” dan “fresh”-nya Bobbito Garcia dalam “Where’d You Get Those: New York City’s Sneaker Culture 1960-1987.” Sulit untuk digambarkan, hanya bisa dirasakan. Kalian pernah merasakannya juga?
Setelah belajar antropologi, ketertarikan saya pada sneaker kian besar karena keterkaitannya dengan dinamika sosial, budaya, dan ekonomi-politik masyarakat. Jika saya dihadapkan pada pilihan apakah menjadi kolektor dan pemburu holy grails; atau buku, jurnal dan majalah tentang sneaker, maka saya akan memilih yang kedua. Rasa haus untuk mengeksplorasi sneaker dari berbagai perspektif pemikiran selain mengasyikan, juga lebih mungkin saya kerjakan, karena harga buku sneaker tak semahal three stripes atau swoosh baru, apalagi langka. Alasan itulah yang mendorong saya mendirikan Sneakerpedia: ruang belajar tentang sneaker dari berbagai sudut pandang dan dalam berbagai konteks kehidupan manusia. Bisa dianggap ini adalah cara saya mewujudkan ajakan Bobbito: “terus mencari cara baru untuk menafsirkan apa yang kita kenakan di kaki kita, dan bagaimana hal itu dapat berdampak pada orang lain.”
Bangkok, 8 Desember 2023
Sadikin Gani