April 7, 2024

Membaca Bobbito di era Hypebeast

Di belantara budaya sneaker, nama Bobbito Garcia sudah tak asing lagi. Kalian, sneakerhead kemungkinan pernah membaca bukunya, atau setidaknya tahu. Saya mengenalnya dari beberapa literatur kajian sneaker. Namanya yang kerap muncul telah mendorong saya melakukan pemburuan atas buku yang dia tulis 20 tahun lalu: Where You Get Those: New York City’s Sneaker Culture: 1960-1987. Ini adalah buku pertama yang mendokumentasikan cikal-bakal dan perkembangan budaya sneaker di kota New York—kota kelahiran hip-hop dan streetwear

Selain membaca bukunya, saya juga berkesempatan membaca Confessions of a Sneaker Addict yang dimuat di The Source, edisi Mei 1991. Itu adalah artikel tentang sneaker yang pertama kali dia tulis. Goresan Bobbito lainnya saya temukan dalam Pendahuluan buku Elizabeth Semmelhack, Out of the Box: The Rice of Sneakers Culture (2015). Dan terakhir, kata pengantar untuk buku Russ Bengtson, A History of Basketball in Fifteen Sneakers (2023).

Aktualisasi Diri

Dulu, di era 1970/80-an yang memakai kicks—istilah lain untuk sneaker—adalah pemain bola basket, tulis Bobbito Garcia. Russ Bengtson mempertegas itu dengan mengatakan bahwa “sejarah sneaker adalah sejarah bola basket.” Namun, kata Bobbito, era itu sudah berlalu. Kini, siapa pun biasa mengenakannya. Kita bisa “melihat banyak orang yang bukan pemain bola basket… memakai sneaker high top mahal,” paparnya. Jaman sudah berganti, sneaker yang awalnya dibuat untuk kebutuhan olahraga bergeser menjadi item gaya kasual. 

Bagi saya, yang tidak hidup di Kota New York dengan ratusan taman lapangan bola basket; dan bagi mereka yang lahir setelah 1990-an mungkin tidak akan terlalu merasakan pergeseran ini. Bahkan, saya sendiri yang melewati masa remaja di tahun 1980-an dan mulai menyukai sneaker bukan karena fungsinya, melainkan karena desainnya. Betul bahwa anak-anak segenerasi saya yang hobi bermain basket sudah biasa mengenakan sneaker hightop dari berbagai brand, tapi rasa suka saya terhadap sneaker dipicu oleh tampilannya yang keren.

Saya duga, alasan seperti itu dirasakan banyak remaja segenerasi saya. Mengenakan sneaker lebih karena hasrat untuk menunjukkan “selera muda” yang berbeda dengan orang tua yang biasa mengenakan sepatu kulit. Juga aktualisasi diri di lingkungan perkaawanan di sekolah dan dunia remaja pada umumnya. Ada perasaan lebih percaya diri bila mengenakan sneaker brand tertentu. Mengenakan adidas, Puma, Lotto, Diadora, Converse, dan Fila yang harganya tidak murah, adalah dambaan banyak remaja di generasi saya. Sekumal apapun sneaker yang dikenakan tetap mampu menopang rasa percaya diri. Apakah orang lain melihatnya secara berbeda, pecinta sneaker tak akan menghiraukan itu.

Keyakinan seperti itu tak hanya dialami remaja Bandung—kota kelahiran saya—juga anak-anak kelas delapan di Brooklyn, Amerika. Catatan Richard Flaste dalam For Eighth‐Graders, The Sneaker Is More Than Sum of Its Parts (1973) menunjukan kecenderungan itu. Anak-anak remaja merasa statusnya menjadi lebih tinggi bila mengenakan Converse atau Keds, dan terhindar dari ejekan “rejects”—sebutan untuk berbagai sneaker non-Keds dan non-Converse.“Keds dan Cons adalah satu-satunya kepemilikan materi yang membedakan siswa dalam kelompok dari siswa yang terbuang,” kata Toni Jo Scott, seorang guru di Sands memberi kesaksian. Tak mengherankan bila mereka memilih memakai sepatu Keds yang sudah tua dan robek daripada mengenakan rejects sekalipun baru. 

Hasrat Dibalik Perburuan Sneaker

Dalam rekaman Bobbito, hasrat untuk memburu sneaker di tahun 1970/80-an, bukan untuk memiliki sepasang sepatu yang sudah tidak lagi diproduksi, melainkan untuk memiliki sepatuyang tidak dimiliki orang lain, entah karena modelnya yang sudah kuno (out of date), atau karena tidak tersedia untuk umum—karena dibuat hanya untuk tim bola basket perguruan tinggi/pro.” Perburuan sneaker, karena itu, lebih didorong oleh hasrat untuk tampil beda/unik—menonjolkan sisi individualitas pemakainnya—khususnya di lapangan basket. Bobbito mencatat, “Pada tahun 1980, saya mulai mengecat garis atau seluruh bagian atas sneaker saya. Saya tidak hanya membuat pernyataan bahwa “Saya unik!” tapi saya juga menciptakan jembatan sosial. Saya akan ditanya oleh banyak orang, “Yo, kawan, dari mana kamu mendapatkannya?”

Di era Bobbito, tempat-tempat perburuan sneaker adalah toko-toko olahraga yang tersebar di berbagai kota. Tambang emasnya adalah ruang penyimpanan dead stock di toko-toko pengecer sepatu yang kondisinya tidak jarang sudah diselimuti debu dan sarang laba-laba.

Inilah yang membedakan dengan perburuan sneaker di era hypebeast dan keusangan yang direncakan (planned obsolescence) oleh brand. 

Bagaimana menurut kalian?

Lihat Kakiku

Switch

Air Jordan 4 Retro ‘Bred’. Foto: Sadikin Gani (Jakarta, 2012).
Previous Story

Preppy Look

Next Story

Kembali ke 1980-an

Latest from Blog

Laced Up: Documenting the Sneaker Culture

“Laced Up,” sebuah film dokumenter yang menggali obsesi mengokleksi sneaker lintas generasi, ras, dan budaya. Sebuah perjalanan menarik menelusuri budaya unik para sneakerhead. Film ini dibintangi Bryan Payne, dan disutradarai oleh Shawn

Tokyo’s Most Sought After Sneakers I Sole Origins

Penulis sneaker Russ Bengtson menyusuri jalanan Tokyo untuk mencari sneaker paling dicari di kota ini dan menjelajahi budaya sneaker Jepang. Sementara itu, pendiri Atmos, Hommyo Hidefumi, dan pakar bola basket, Yoichuro Kitadate,

Don't Miss

Laced Up: Documenting the Sneaker Culture

“Laced Up,” sebuah film dokumenter yang menggali obsesi mengokleksi sneaker

How the Berlin Wall Gave Birth to Germany’s Sneaker Culture I Sole Origins

Sole Origins menuju Jerman, mengunjungi kantor pusat adidas dan Puma,