Di tahun 1970-1980-an sebagian besar anak-anak yang duduk di sekolah dasar sudah akrab dengan sneaker. Sepatu sekolah, ya sneaker. Setiap kali memasuki tahun ajaran baru, bukan hanya kelas, seragam, tas, dan buku baru, juga sneaker baru. Dan sudah menjadi kebiasaan—meski kadang menjengkelkan—setiap kali mengenakan sepatu baru pasti akan diinjak ramai-ramai sebagai tanda “perkenalan”. Tampaknya kebiasaan seperti itu universal. Di kota New York, seperti dikisahkan Garcia, kebiasaan menginjak sneaker baru dikenal dengan istilah stepsies. Kebiasaan itu masih saya alami hingga di duduk di sekolah menengah atas, meski tak “sebrutal” pada jaman SD.
Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, sebagian besar siswa/siswi mengenakan sneaker Bata dan keluarganya: Northstar dan Power. Bata menjadi pilihan, selain harganya yang relatif terjangkau—demikian menurut orang tua saya dulu—juga karena kekuatannya—dipakai setiap hari, Senin hingga Sabtu. Bata cukup kokoh dibebani aktivitas anak-anak yang umumnya pulang-pergi ke sekolah berjalan kaki—0,5-2 km—dan melakukan berbagai permainan—kucing-kucingan, petak-umpet, sondah/engkle, sapintrong, gatrik—hingga olahraga, yang berpotensi membuat umur sepatu lebih pendek. Karena itu, bisa dipahami bila setiap pergantian tahun ajaran ganti sneaker.
Para orang tua dan anak-anak segenerasi saya biasa menyebut sepatu bersol karet alias sneaker itu dengan sebutan “sepatu kets”—metonimia dari merek sepatu Keds. Namun, saya sendiri tidak memiliki kenangan khusus dengan brand Amerika rival Converse itu. Yang masih saya ingat dan hingga kuliah semester pertama masih saya kenakan adalah “sepatu kelinci” yang desainnya mirip slip-on-nya Keds dan Vans. Apakah karena popularitasnya kalah oleh Bata atau hal lain, saya tidak memiliki memori dengaan Keds.
Jaman itu, semua sepatu dengan model hi-top (apapun brand-nya) lazim disebut sepatu basket. Hampir tidak pernah disebut sepatu kets. Sepatu lain yang juga familiar dan cukup populer bagi anak-anak sekolah dasar di tahun 1970-an-1980 adalah sepatu big-boss, sepatu bersol karet dengan atasan berbahan beludru tipis berwarna hitam. Disebut demikian karena model tersebut dipakai Bruce Lee dalam film Big-Boss (1971). Lazim juga orang menyebutnya sepatu kungfu.
Setelah menghabiskan masa sekolah dasar dengan sneaker Bata, keinginan untuk berpindah ke sneaker lain kian menguat. Alasannya konyol dan tidak masuk akal: “Bata itu sepatunya anak SD.” Saya pikir, jika tidak semua anak, beberapa anak yang saya kenal mengasosiasikan sepatu Bata dengan anak SD yang dianggap sudah tidak cocok lagi dikenakan anak SMP. Pengalaman ini mirip perilaku anak-anak SMP di kota New York tahun 1970-an yang merasa statusnya lebih rendah karena mengenakan “rejects”, sebutan untuk sepatu non-Keds dan non-Converse. Seperti dikatakan Toni Jo Scott, seorang guru di Sands, “Keds dan Cons adalah satu-satunya kepemilikan materi yang membedakan siswa dalam kelompok dari siswa yang terbuang.”
Saat masuk SMP saya mulai menanggalkan Bata, beralih ke Warrior kanvas hi-top dan adidas Hurricane— sepatu lari. Modelnya similar dengan Onitsuka Tiger Mexico 66 yang dikenakan Bruce Lee dalam Game of Death (1978) dan Uma Thurman dalam Kill Bill Vol 1 (2003). Memasuki masa SMA saya mengenakan adidas Harvard dan Tennis Royal. Alasannyasemata-mata karena desainnya dan membuat lebih percaya diri! Apakah orang melihatnya demikian, entah.
Berbagai sneaker yang melekat dalam ingat saya di sepanjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas (1980—1988) antara lain Puma Clyde, Puma Suede, Bata/North Star, Warrior (kanvas hi-top), Nike Air Force One, Reebook Freestyle, adidas Samba, Adidas Stan Smith, Nike Cortez, Nike Blazer, adidas Superstar, Nike Air Jordan 1, adidas Gazzele, adidas Hurricane, adidas Harvard, adidas Tennis Royal, adidas Top Ten, adidas Forum, Convers All Star, Converse Pro Leather, New Balance 99X Series, New Balance 5 Series, New Balance 550, Diadora, Fila hi-top, Lotto, Reebox Classic Leather, Nike Vandal Supreme (1985), Diadora Borg Elite, adidas Concord, adidas Marathon TR, adidas L.A. Trainer, adidas Campus, adidas Jeans Trainers, adidas ZX Series, L.A.Gear hi-top, Kasogi hi-top, dan Diadora Björn Borg.
