April 17, 2024

Perempuan dan Sneaker

Belum lama ini terbit sebuah buku yang cukup menarik diletakkan dalam konteks budaya sneaker yang sangat maskulin: She Kicks.  

Seperti dikemukakan dalam situs penerbitnya, She Kicks disebut sebagai Female Disruptors in the Sneaker World (Disrupsi Perempuan di Dunia Sneaker). Saya kutipkan deskripsi singkatnya:

“Dibuat untuk para sneakerhead perempuan, She Kicks mengisahkan kaum perempuan yang, dan selalu, memajukan budaya sneaker. Menampilkan pemain-pemain hebat di Nike, Adidas, Converse, StockX, dan banyak lagi, She Kicks menampilkan wirausahawan, desainer, pemasar, dan eksekutif perempuan yang meluangkan waktu di klub anak laki-laki. Sebagaimana diulas di Hypebae, Sneakerfreaker, Sole Supplier, WWD, High Snobiety, dan banyak lagi.”

Pertanyaannya adalah, pesan penting apa yang ingin disampaikan melalui buku ini terkait perempuan?

Menurut Sanne Poeze, alias @girlonkicks, salah satu penyusun buku ini, kelahiran She Kicks didorong oleh kenyataan ada begitu banyak perempuan luar biasa yang bekerja dan berkontribusi terhadap industri sneaker. Karena itu, “penting bagi kami untuk menyoroti pengalaman dan perspektif orang-orang yang tidak hanya bekerja sebagai ‘desainer sepatu kets’ untuk menunjukkan beragam peran yang tersedia di bidang ini dan berapa banyak orang yang diperlukan untuk menghidupkan sneaker favorit Anda,” kata Poeze.

Melalui She Kicks, Poeze berhadap dapat menunjukan kepada kaum perempuan bahwa, meskipun jumlah perempuan lebih sedikit dibanding laki-laki, “terdapat ruang bagi mereka untuk menjadi bagian dari industri sneakers dan, lebih dari itu, bahwa dunia sneaker membutuhkan keahlian dan wawasan mereka agar dapat berkembang dan bertumbuh.”

Jika perempuan yang dimaksud oleh Poeze adalah perempuan sneakerhead, tampaknya bisa dimengerti. Tetapi, jika perempuan yang dimaksud adalah mereka yang terlibat dalam rantai pasokan industri sneaker jumlahnya sangat besar. Di Indonesia misalnya, dari sekitar 131.958 buruh yang tersebar di 20 pabrik yang memproduksi Nike dan Converse, 75 persennya adalah perempuan. Sayangnya, kontribusi perempuan di level ini cenderung tidak diperlakukan secara manusiawi.  

Saya setuju, sudah selayaknya kepentingan perempuan di industri sneaker terus disuarakan dan diperjuangkan. Namun, karena kedudukan dan peran perempuan di industri ini sangat beragam, maka perlu diperjelas, kepentingan perempuan mana yang akan diperjuangkan. Perempuan yang duduk sebagai desainer sneaker, eksekutif perusahaan sneaker, perempuan yang bekerja di pabrik sneaker, perempuan sneakerhead, wirausahawan sneaker, dll memiliki kepentingan yang berbeda-beda—dan tampaknya belum saling terkait—meskipun sama-sama mengusung kata kunci “perempuan”.

Apa yang disuarakan oleh sneakerhead perempuan baru menyuarakan perempuan dalam kedudukannya sebagai konsumen sneaker yang tidak atau kurang diperhatikan oleh jenama-jenama sneaker terkait dengan produk. Kalaupun kemudian menyuarakan kepentingan perempuan dalam industri yang lebih luas, perhatian mereka baru sebatas tuntutan kesetaraan dan kesempatan yang sama di level pekerjaan menengah dan atas. Tidak berbicara kepentingan seluruh perempuan yang terlibat dalam industri footwear, khususnya sneaker. Dengan kata lain gerakan sneakerhead perempuan pada dasarnya adalah “aktivisme konsumen” (consumer activism)(Henry Jenkins, 1992. Textual poachers: television fans and participatory culture, hal. 284)yang mengkritik beberapa kebijakan brand terkait kepentingan mereka.

Kecenderungan itu semakin kentara ketika Poeze berbicara tentang keterwakilan dan inklusivitas perempuan di dunia sepatu modern. Menurutnya, salah satu hal paling positif berkembangnya komunitas dan individu yang mengadvokasi kesetaraan dalam sneaker, memamerkan produk dan cerita yang dipimpin perempuan, bertukar tips dalam menemukan sneaker terbaru dalam ukuran yang lebih inklusif. Dan ketika ditanya hal apa masih perlu ditingkatkan, dengan jelas Poeze mengatakan:“produk, tidak diragukan lagi,” kata dia. “Ukuran sepatu yang lebih inklusif, sepatu eksklusif perempuan yang lebih mendobrak batas, dan, yang terpenting, lebih banyak alas kaki performa yang dirancang khusus untuk atlet perempuan,” katanya.

Hal seperti ini bisa dipahami, mengingat kegelisahan—jika boleh saya mengatakannya demikian—sneakerhead perempuan lahir dari konstestasi dalam budaya sneaker yang dinominasi laki-laki. Mahogany “Mo” Terry, seorang pecinta sneaker mengatakan kepada Style Magazine, bukan hal yang mengagetkan bahwa industri sneaker didominasi laki-laki. Menurutnya, meskipun terdapat populasi perempuan sneakerhead, tetapi mereka tidak terwakili dengan baik. Dalam upaya merangkul lebih banyak perempuan sneakerhead Mo mendirikan OurSoles.

Hal lain yang menjadi kritik perempuan sneakerhead dalam budaya sneaker yang didominasi laki-laki adalah objektifikasi perempuan. Seperti dikemukakan oleh Lori Lobenstine, penulis buku Girls Got Kicks pendiri Female Sneaker Fiend, sebagian situs sneaker yang didominasi laki-laki, sehinnga banyak perempuan yang merasa tidak disukai karena tidak dihormati. Selain itu, situs-situs itu kerap menampilkan foto perempuan mengenakan sneaker dengan tubuh yang hampir telanjang.Kami membutuhkan situs yang benar-benar mencerminkan para pecinta sneaker perempuan,” kata Lori kepada Sneaker Freaker.

Lori memandang, keberadaan Girls Got Kicks sangat penting. Seperti yang dikemukakannya pada Sneaker Freaker, buku ini ditujukan untuk:

“menangkap gaya, gairah, dan keragaman perempuan pecinta sneaker dalam sebuah buku yang menggabungkan kata-kata dan gambar, tua dan muda, terkenal dan biasa. Dari gadis-gadis di kota kecil yang berpikir bahwa mereka adalah satu-satunya gadis di luar sana yang menyukai kicks hingga gadis-gadis yang menghabiskan waktu berjam-jam di situs sneaker, dari fashionista hingga tomboi, artis graff hingga rocker indie, Girls Got Kicks akan menjadi penghormatan kepada perempuan yang telah mengubah bentuk alas kaki sesuai citra mereka. Komunitas kami kaya dan penuh warna seperti koleksi kami, dan kami ingin orang-orang melihatnya…. Saya pikir buku ini tidak hanya akan membantu menghubungkan kita—para sneakerhead perempuan (pen.)—juga membantu menyingkirkan stereotip perempuan penggila sneaker. Saya selalu terinspirasi oleh cara para gadis menampilkan diri mereka dengan kicks mereka. Saya harap Girls Got Kicks menginspirasi mereka, sama seperti mereka menginspirasi saya.

Kelahiran Girls Got Kicks bisa dikatakan melengkapi buku Where’d You Get Those-nya Bobbito Garcia yang sangat laki-laki, karena tidak ada satu pun foto/profil perempuan dalam buku itu. Ketika dia mempertanyakannya, Bobbito mengatakan bahwa dia tidak kenal seorang pun perempuan yang menyukai sneaker. “Itu membuatku bersumpah bahwa tidak akan ada lagi orang yang tidak tahu cara menemukan kami (perempuan-pen),” kata Lori. “Website telah melakukan hal itu, dan kini sebuah buku akan menjadikan kehadiran kami lebih permanen,” pungkasnya.

Foto: Studio 96 Publishing

Lihat Kakiku

Switch

Air Jordan 4 Retro ‘Bred’. Foto: Sadikin Gani (Jakarta, 2012).
Previous Story

Melawan Penyeragaman

Next Story

Buku Sneaker Lebih Langka dari Sneaker Langka

Latest from Blog

Laced Up: Documenting the Sneaker Culture

“Laced Up,” sebuah film dokumenter yang menggali obsesi mengokleksi sneaker lintas generasi, ras, dan budaya. Sebuah perjalanan menarik menelusuri budaya unik para sneakerhead. Film ini dibintangi Bryan Payne, dan disutradarai oleh Shawn

Tokyo’s Most Sought After Sneakers I Sole Origins

Penulis sneaker Russ Bengtson menyusuri jalanan Tokyo untuk mencari sneaker paling dicari di kota ini dan menjelajahi budaya sneaker Jepang. Sementara itu, pendiri Atmos, Hommyo Hidefumi, dan pakar bola basket, Yoichuro Kitadate,

Don't Miss

Laced Up: Documenting the Sneaker Culture

“Laced Up,” sebuah film dokumenter yang menggali obsesi mengokleksi sneaker

How the Berlin Wall Gave Birth to Germany’s Sneaker Culture I Sole Origins

Sole Origins menuju Jerman, mengunjungi kantor pusat adidas dan Puma,