Jika di kota New York pada 1980-an anak-anak muda Afrika-Amerika dan Latin menggunakan sneaker sebagai penanda identitas dan status dalam kungkungan rasisme dan tekanan ekonomi-politik, anak-anak di negara otoriter seperti Indonesia adalah untuk melawan penyeragaman. Keduanya sama-sama berusaha menampilkan sisi individualitas dan kebasan berekspresi. Melawan keharusan-keharusan yang dikendalikan oleh rezim otoriter.
Beberapa anak menyadari bahwa retorika kewajiban mengenakan seragam sekolah pada dasarnya adalah menutupi realitas yang sesungguhnya. Saya kerap mendengar bahwa dengan mengenakan seragam untuk menghindari persaingan dan (menutupi) kesenjangan antar siswa/siswi sekolah. Ini tidak masuk akal, karena meski sneaker yang dikenakan sama-sama hitam, kami tahu persis bahwa Bata dan Warrior itu beda kasta dengan adidas, Reebok, Fila, Lotto, dan Diadora.
Kewajiban mengenakan seragam sekolah sungguh menyiksa. Keinginan membangun eksistensi dan penanda individualitas dalam penampilan dengan mengubah baju dan celana seragam sekolah sudah tidak mungkin. Saya pernah mengenakan celana warna lain dari yang diwajibkan, konsekuensinya dipanggil guru BP, karena dianggap membangkang. Baju tidak mungkin diubah, celana juga demikian. Jalan pembangkangan yang memungkinkan adalah melalui sneaker. Selain untuk menunjukan status dan identitas individual, juga lebih mudah untuk untuk disembunyikan dari pengawasan guru.
Mengenakan sneaker yang berbeda, selain didorong oleh keinginan untuk menunjukkan individualitas, juga melawan penyeragaman.
