Sebagai bagian dari item fashion, sneaker yang dirilis adidas, Puma, Nike, Reebok, On, Converse dll, meski tidak tergolong murah untuk kebanyakan masyarakat Indonesia, tetapi masih memungkinkan untuk diakses. Kalaupun harus menabung, tidak perlu menunggu waktu terlalu lama untuk memperoleh sepasang sneaker yang harga berkisar antara 1,5—3 juta rupiah. Jika kemampuan menabung kita 200 ribu rupiah per bulan, itu artinya hanya butuh bersabar selama 10 bulan untuk memperoleh sepasang adidas. Bahkan bisa lebih cepat jika bertepatan dengan momen diskon. Cara ini tentu tidak realistis jika barang yang diinginkan adalah hoodie-nya Burberry yang kisaran harganya antara 800-1.000 dolar Amerika (sekitar 12-15 juta rupiah). Jika harus menabung untuk itu, kita perlu bersabar selama kurang lebih 75 bulan (6 tahun lebih). Selain tidak realistis, barangnya pun sudah bisa dipastikan tidak tersedia lagi di pasaran. Itu sebabnya sneaker—kecuali yang dikeluarkan oleh brand-brand high-end— lebih memungkinkan diakses banyak orang.
Mengapa orang tertarik pada sneaker dan mau bersabar untuk memperolehnya, ini yang menarik. Pertama, kedudukan sneaker itu unik. Jika diletakkan dalam piramida pasar fashion, kedudukan, sebut saja misalnya adidas Samba yang kini booming, berada di posisi bawah. Namun, sebagai item gaya, kedudukannya jelas berada di atas, karena mampu menembus batas kelas, ras, gender, demografi, geografi, dll. adidas Samba tidak hanya dikenakan oleh aktris/aktor Hollywood, penyanyi, musisi, super model dunia dan orang-orang terkenal lainnya, juga dipakai seorang supporter Persib tetangga saya. Pada titik ini, keunikan sneaker, kata Howell (2021), mampu menjadi katalis gaya yang memungkinkan diakses oleh banyak orang.
Kedua, apapun pakaiannya, yang penting alas kakinya. Bagi penggemar sneaker, daya tariknya melampaui pakaian. Tentu bukan berarti semua orang yang mengenakan sneaker akan selalu terlihat keren. Itu soal selera. Bagi penggemar sneaker, terlepas dari apakah gaya seseorang layak dikagumi atau tidak; apakah penampilannya membuat kita bergumam “OMG” atau “wow”, perhatian pertama akan tertuju pada sneaker yang dikenakannya. Sebagai item fashion, sneaker bisa dinikmati secara stand alone, terlepas dari item pakaian lain yang melekat pada tubuh seseorang. Keberadaannya, “secara unik tidak bergantung pada tubuh fisik seseorang. Memiliki bentuk yang tetap terjaga bahkan saat pemakainya tidak ada (Riello dan McNeil, 2011).
Kalian Punya pendapat lain?
