December 11, 2023

Alas Kaki, Pijakan Kepercayaan Diri

Dulu, di era 1970/80-an yang memakai kicks atau sneaker adalah pemain bola basket, tulis Babbito Garcia, penulis Where You Get Those: New York City’s Sneaker Culture: 1960-1987 (2003). Russ Bengtson, sahabat Bobbito, penulis A History of Basketball in Fifteen Sneakers (2023) mempertegas itu. “Sejarah sneaker adalah sejarah bola basket,” kata Russ. Namun, kata Bobbito, era itu sudah berlalu. Kini, siapa pun biasa mengenakannya. Kita “melihat banyak orang yang bukan pemain bola basket… memakai sneaker high top mahal,” paparnya. Jaman sudah berganti, sneaker yang awalnya dibuat untuk kebutuhan olahraga bergeser menjadi item gaya kasual. 

Bagi saya, yang tidak hidup di Kota New York dengan ratusan taman lapangan bola basket; dan bagi mereka yang lahir setelah 1990-an mungkin tidak akan terlalu merasakan pergeseran ini. Bahkan, saya sendiri yang melewati masa remaja di tahun 1980-an dan mulai menyukai sneaker bukan karena fungsinya, melainkan karena desainnya. Betul bahwa anak-anak segenerasi saya yang hobi bermain basket sudah biasa mengenakan sneaker hightop dari berbagai brand, tapi rasa suka saya terhadap sneaker dipicu oleh tampilannya yang keren.

Saya duga, alasan seperti itu dirasakan banyak remaja segenerasi saya. Mengenakan sneaker lebih karena hasrat untuk menunjukkan “selera muda” yang berbeda dengan para orang tua yang biasa mengenakan sepatu pantofel kulit dan celana pantalon, bukan jeans. Juga aktualisasi diri di lingkungan perkaawanan di sekolah dan dunia remaja pada umumnya. Ada perasaan lebih percaya diri bila mengenakan sneaker brand tertentu. Mengenakan adidas, Puma, Lotto, Converse, atau Fila yang harganya tidak murah, adalah dambaan banyak remaja di generasi saya. Sekumal apapun sneaker yang dikenakan tetap mampu menopang rasa percaya diri. Apakah orang lain melihatnya secara berpeda, pecinta sneaker tak akan menghiraukan itu.

Rupanya, keyakinan seperti itu tak hanya dialami para remaja di Bandung—kota kelahiran saya—juga anak-anak kelas delapan di Brooklyn, Amerika. Catatan Richard Flaste dalam For Eighth‐Graders, The Sneaker Is More Than Sum of Its Parts (1973) menunjukan kecenderungan serupa. Anak-anak remaja di Broklyn selain merasa statusnya jadi lebih tinggi bila mengenakan Converse atau Keds, juga terhindar dari ejekan “rejects”, sebutan untuk berbagai sneaker non-Keds dan non-Converse.“ Keds dan Cons adalah satu-satunya kepemilikan materi yang membedakan siswa dalam kelompok dari siswa yang terbuang,” kata Toni Jo Scott, seorang guru di Sands memberi kesaksian. Tak mengherankan bila kebanyakan remaja di Broklyn akan memilih memakai sepatu Keds yang sudah tua dan robek daripada mengenakan rejects sekalipun baru. 

Kalian punya pengalaman serupa?

Lihat Kakiku

Switch

Air Jordan 4 Retro ‘Bred’. Foto: Sadikin Gani (Jakarta, 2012).
Previous Story

Superstar Sepanjang Masa

Next Story

Merah Klasik

Latest from Blog

Laced Up: Documenting the Sneaker Culture

“Laced Up,” sebuah film dokumenter yang menggali obsesi mengokleksi sneaker lintas generasi, ras, dan budaya. Sebuah perjalanan menarik menelusuri budaya unik para sneakerhead. Film ini dibintangi Bryan Payne, dan disutradarai oleh Shawn

Tokyo’s Most Sought After Sneakers I Sole Origins

Penulis sneaker Russ Bengtson menyusuri jalanan Tokyo untuk mencari sneaker paling dicari di kota ini dan menjelajahi budaya sneaker Jepang. Sementara itu, pendiri Atmos, Hommyo Hidefumi, dan pakar bola basket, Yoichuro Kitadate,

Don't Miss

Laced Up: Documenting the Sneaker Culture

“Laced Up,” sebuah film dokumenter yang menggali obsesi mengokleksi sneaker

How the Berlin Wall Gave Birth to Germany’s Sneaker Culture I Sole Origins

Sole Origins menuju Jerman, mengunjungi kantor pusat adidas dan Puma,