Dulu, di era 1970/80-an yang memakai kicks atau sneaker adalah pemain bola basket, tulis Babbito Garcia, penulis Where You Get Those: New York City’s Sneaker Culture: 1960-1987 (2003). Russ Bengtson, sahabat Bobbito, penulis A History of Basketball in Fifteen Sneakers (2023) mempertegas itu. “Sejarah sneaker adalah sejarah bola basket,” kata Russ. Namun, kata Bobbito, era itu sudah berlalu. Kini, siapa pun biasa mengenakannya. Kita “melihat banyak orang yang bukan pemain bola basket… memakai sneaker high top mahal,” paparnya. Jaman sudah berganti, sneaker yang awalnya dibuat untuk kebutuhan olahraga bergeser menjadi item gaya kasual.
Bagi saya, yang tidak hidup di Kota New York dengan ratusan taman lapangan bola basket; dan bagi mereka yang lahir setelah 1990-an mungkin tidak akan terlalu merasakan pergeseran ini. Bahkan, saya sendiri yang melewati masa remaja di tahun 1980-an dan mulai menyukai sneaker bukan karena fungsinya, melainkan karena desainnya. Betul bahwa anak-anak segenerasi saya yang hobi bermain basket sudah biasa mengenakan sneaker hightop dari berbagai brand, tapi rasa suka saya terhadap sneaker dipicu oleh tampilannya yang keren.
Saya duga, alasan seperti itu dirasakan banyak remaja segenerasi saya. Mengenakan sneaker lebih karena hasrat untuk menunjukkan “selera muda” yang berbeda dengan para orang tua yang biasa mengenakan sepatu pantofel kulit dan celana pantalon, bukan jeans. Juga aktualisasi diri di lingkungan perkaawanan di sekolah dan dunia remaja pada umumnya. Ada perasaan lebih percaya diri bila mengenakan sneaker brand tertentu. Mengenakan adidas, Puma, Lotto, Converse, atau Fila yang harganya tidak murah, adalah dambaan banyak remaja di generasi saya. Sekumal apapun sneaker yang dikenakan tetap mampu menopang rasa percaya diri. Apakah orang lain melihatnya secara berpeda, pecinta sneaker tak akan menghiraukan itu.
Rupanya, keyakinan seperti itu tak hanya dialami para remaja di Bandung—kota kelahiran saya—juga anak-anak kelas delapan di Brooklyn, Amerika. Catatan Richard Flaste dalam For Eighth‐Graders, The Sneaker Is More Than Sum of Its Parts (1973) menunjukan kecenderungan serupa. Anak-anak remaja di Broklyn selain merasa statusnya jadi lebih tinggi bila mengenakan Converse atau Keds, juga terhindar dari ejekan “rejects”, sebutan untuk berbagai sneaker non-Keds dan non-Converse.“ Keds dan Cons adalah satu-satunya kepemilikan materi yang membedakan siswa dalam kelompok dari siswa yang terbuang,” kata Toni Jo Scott, seorang guru di Sands memberi kesaksian. Tak mengherankan bila kebanyakan remaja di Broklyn akan memilih memakai sepatu Keds yang sudah tua dan robek daripada mengenakan rejects sekalipun baru.
Kalian punya pengalaman serupa?
