December 12, 2023

Mengurai Sneaker

Tidak akan terlalu sulit jika kita harus menjawab pertanyaan kapan model sneaker terbaru akan dirilis sebuah brand. Di aplikasi apa kita bisa mencari sneaker langka dan otentik? Apa itu StockX? Model apa yang sedang populer? Event sneaker apa yang layak dikunjungi di dalam dan luar negeri? Bagaimana membedakan sneaker asli dan palsu? Bagaimana cara perawatan sneaker? Dan seterusnya.

Tetapi, tidak terlalu mudah bila pertanyaan yang diajukan adalah: mengapa banyak orang terobsesi dengan sneaker? Apa yang membuat sneaker menjadi barang fetis? Mengapa budaya sneaker didominasi laki-laki dan meminggirkan perempuan? Bagaimana menjelaskan sneaker yang awalnya fenimin menjadi sangat maskulin? Bagaimana benda yang awalnya dianggap remeh-temeh menjadi item penting dalam fashion, penanda identitas dan simbol status? Apa pertimbangannya orang mau membeli sneaker ratusan bahkan miliaran rupiah untuk sepasang sneaker yang harga awalnya 2,5 juta rupiah? Bagaimana subkultur sneaker yang berakar dari budaya underground dan simbol pemberontakan terhadap budaya arus utama menjadi upperground? Dan seterusnya. 

Jika pertanyaan dilanjutkan ke area samar-samar yang kerap luput dari perhatian kita, seperti: bagaimana cara kerja rantai pasokan di industri sneaker? Apa kaitan antara produksi, distribusi dan konsumsi sneaker dengan permasalahan lingkungan dan kemanusiaan? Apa hubungannya antara kerusakan hutan Amazon dengan sneaker? Mengapa pabrik-pabrik sepatu terpusat di Asia, menguasa 88% produksi sepatu dunia? Apa yang membuat Indonesia menjadi produsen sepatu terbesar ketiga di dunia, memproduksi 535 juta pasang sepatu, atau 3,5 persen dari total produksi sepatu global (World Foot Wear Yearbook 2023)?

Apakah kita tahu bahwa 20 juta dolar Amerika yang diperoleh Michael Jordan dari sponsorship pada 1992 lebih besar dari total gaji seluruh perempuan di Asia Tenggara yang menjahit Nike Air Jordan (Hoskin, 2020, Kindle Version: 56)? Apa maknanya, dan bagaimana kita melihat realitas itu? Apakah kita juga tahu bahwa sebagian besar buruh pabrik sepatu adalah perempuan yang kerap didiskriminasi dan mendapatkan perlakuan buruk? Dan seterusnya.

Sneaker adalah dunia kompleks. Namun, bukan berarti tidak bisa diurai. Pada titik inilah Sneakerpedia berdiri. Membuka cakrawala sneaker yang tak berhenti di garis penggemar dan pemakai saja. Sebab sepatu yang umumnya dibuat dari “lebih dari empat puluh komponen terpisah dan bahan berbeda dengan jumlah yang hampir sama” (Hoskin, ibid, 109) tidak datang dari langit dan mewujud dengan sendirinya. Sepatu membutuhkan ekstrasi material dari alam, kulit binatang, dan dikerjakan oleh manusia dengan berbagai konsekuensinya. Kesadaran itulah yang hendak kami bangun. Apa langkah selanjutnya, akan terjawab nanti.

Lihat Kakiku

Switch

Air Jordan 4 Retro ‘Bred’. Foto: Sadikin Gani (Jakarta, 2012).
Previous Story

Tshirt dan Rok Tetap (New) Balance

Next Story

adidas to the Max

Latest from Blog

Laced Up: Documenting the Sneaker Culture

“Laced Up,” sebuah film dokumenter yang menggali obsesi mengokleksi sneaker lintas generasi, ras, dan budaya. Sebuah perjalanan menarik menelusuri budaya unik para sneakerhead. Film ini dibintangi Bryan Payne, dan disutradarai oleh Shawn

Tokyo’s Most Sought After Sneakers I Sole Origins

Penulis sneaker Russ Bengtson menyusuri jalanan Tokyo untuk mencari sneaker paling dicari di kota ini dan menjelajahi budaya sneaker Jepang. Sementara itu, pendiri Atmos, Hommyo Hidefumi, dan pakar bola basket, Yoichuro Kitadate,

Don't Miss

How the Berlin Wall Gave Birth to Germany’s Sneaker Culture I Sole Origins

Sole Origins menuju Jerman, mengunjungi kantor pusat adidas dan Puma,

Tokyo’s Most Sought After Sneakers I Sole Origins

Penulis sneaker Russ Bengtson menyusuri jalanan Tokyo untuk mencari sneaker